Senin, 19 Maret 2012

Pengertian tentang penulisan ilmiah

    Penulisan ilmiah merupakan karya tulis yang disusun oleh seorang mahasiswa atau mahasiswi yang telah menyelesaikan kurang lebih 100 sks dengan dibimbing oleh seorang dosen pembimbing sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar setara sarjana muda.
   Yang mana tujuan dalam penulisan ilmiah adalah melatih mahasiswa agar dapat berpikir secara logis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan serta dapat menuangkannya secara sistematis dan terstruktur.
    Isi dan Materi
Isi dari penulisan ilmiah diharapkan memenuhi aspek-aspek di bawah ini:
1. Relevan dengan jurusan dari mahasiswa yang bersangkutan.
2. Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
3. Masalah dibatasi.
    Struktur Penulisan Ilmiah
Susunan struktur penulisan ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Bagian awal
2. Bagian pokok
   a Bab pendahuluan
   b Bab landasan teori
   c Bab pembahasan
   d Bab penutup
3. Bagian akhir



Contoh penulisan Ilmiah

                                                                      DAFTAR ISI
Halaman Judul........................................................................................I
Lembar pengesahan................................................................................II
Abstrak..................................................................................................III
Kata pengantar........................................................................................IV
Daftar Isi..................................................................................................V
Daftar tabel..............................................................................................VI
Daftar Gambar.........................................................................................VII
Daftar Lampiran.......................................................................................VIII
BAB I PENDAHULUAN........................................................................1
         1.1 Latar belakang masalah...............................................................1
         1.2 Rumusan dan batasan masalah.....................................................2
         1.3 Tujuan penelitian..........................................................................3
         1.4 Manfaat penelitian.......................................................................4
         1.5 Metode penelitian....................................................................... 5
BAB II  LANDASAN TEORI...................................................................10
         2.1 Kerangka teori............................................................................10
         2.2 Kajian penelitian sejenis...............................................................11
BAB III METODE PENELITIAN.............................................................25
         3.1 Objek penelitian,dst
BAB IV PEMBAHASAN..........................................................................30
         4.1 Data dan profile objek peneliian, dst
BAB V PENUTUP.....................................................................................50
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................52
DAFTAR SIMBOL....................................................................................53
LAMPIRAN...............................................................................................54

Minggu, 18 Maret 2012

Pengertian Penalaran,induksi dan deduksi


Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Contohnya:
-Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
-Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
kesimpulan ---> Semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan



Pengertian Paragraf Induktif
Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Contohnya: Pada waktu anak didik memasuki pendidikan formal, pendidikan bahasa Indonesia secara metodologis dan sistematis bukanlah merupakan halangan baginya untuk memperluas dan memantapkan bahasa daerah. SEtelah anak didik meninggalkan kelas, ia kembali mempergunakan bahasa daerah dengan teman-temannya atau orang tuanya. ia merasa lebih intim dengan bahasa daerah. jam sekolah hanya berlangsung selama beberapa jam. Baik waktu istirahat ataupun diantara jam-jam pelajaran, unsur-unsur bahasa daerah tetap digunakan. Ditambah lagi jika sekolah itu bersifat homogen dan gurunya penutur  asli bahasa daeah itu. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pengetahuan si anak terhadap bahasa daerahnya akan tetap maju
Paragraf deduktif
Paragraf dengan kalimat utama di awal, kemudian diikuti oleh kalimat penjelas.
Contohnya: Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.
Sumber: http://iaibcommunity.wordpress.com/2008/04/22/paragraf-deduktif-induktif-dan-deduktif-induktif/

Pengertian Penalaran,induksi dan deduksi


Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Contohnya:
-Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
-Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
kesimpulan ---> Semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan



Pengertian Paragraf Induktif
Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Contohnya: Pada waktu anak didik memasuki pendidikan formal, pendidikan bahasa Indonesia secara metodologis dan sistematis bukanlah merupakan halangan baginya untuk memperluas dan memantapkan bahasa daerah. SEtelah anak didik meninggalkan kelas, ia kembali mempergunakan bahasa daerah dengan teman-temannya atau orang tuanya. ia merasa lebih intim dengan bahasa daerah. jam sekolah hanya berlangsung selama beberapa jam. Baik waktu istirahat ataupun diantara jam-jam pelajaran, unsur-unsur bahasa daerah tetap digunakan. Ditambah lagi jika sekolah itu bersifat homogen dan gurunya penutur  asli bahasa daeah itu. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pengetahuan si anak terhadap bahasa daerahnya akan tetap maju
Paragraf deduktif
Paragraf dengan kalimat utama di awal, kemudian diikuti oleh kalimat penjelas.
Contohnya: Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.
Sumber: http://iaibcommunity.wordpress.com/2008/04/22/paragraf-deduktif-induktif-dan-deduktif-induktif/

Sabtu, 14 Januari 2012

Tugas BI di tahun 2012

TAHUN 2011 berlalu sudah. Namun, pekerjaan rumah (PR) Bank Indonesia (BI) masih berlimpah ruah untuk dituntaskan pada 2012. Apa saja? Bagaimana mengatasinya?

Pada pidato di depan bankir nasional pada 9 Desember 2011, BI menyampaikan arah kebijakan 2012 yang meliputi lima langkah. Pertama, mengoptimalkan peran kebijakan moneter.Kedua,meningkatkan efisiensi perbankan untuk mengoptimalkan kontribusinya dalam perekonomian. Ketiga, meningkatkan efisiensi, keandalan, dan keamanan sistem pembayaran. Keempat, memperkuat ketahanan makro dengan memantapkan koor-dinasi dalam manajemen pencegahan dan penanganan krisis. Kelima, mendukung pemberdayaan sektor riil, termasuk melanjutkan upaya perluasan akses perbankan (financial inclusion) kepada masyarakat.

Sejalan dengan lima langkah itu, lalu apa saja PR BI menurut skala prioritas pada 2012. Pertama, mengawal inflasi. Pada 2011, BI boleh tersenyum dapat menjaga inflasi tahunan hingga 3,79 persen per Desember 2011 menipis dari 4,15 persen per November 2011.Namun 2012 bukan tahun bulan madu, melainkan penuh tantangan dan potensi risiko. Ingat, krisis ekonomi AS pada 1998 gara-gara subprime mortgage baru memukul Indonesia setahun kemudian. Untuk itu, BI harus terus menghitung dampak krisis utang Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang makin nyata.

Arus keluar modal asing (capital outflow) diperkirakan tetap tinggi. Untunglah, Indonesia naik kelas menjadi peringkat layak investasi (investment grade). Artinya, kepercayaan investor global untuk berinvestasi ke Indonesia meningkat karena membaiknya persepsi risiko berinvestasi. Akibatnya, arus masuk modal asing (capital inflow) dan investasi langsung (foreign direct investment/FDI) pun kian meluap. Namun ingat, ada subsidi energi yang bisa memicu inflasi. Pemerintah akan menetapkan pembatasan BBM bersubsidi bagi mobil pribadi mulai April 2012.

Bukan hanya itu. Pemerintah pun akan menaikkan tarif dasar listrik (TDL). Subsidi BBM dalam APBN 2012 dianggarkan Rp123,599 triliun dan subsidi listrik Rp44,96 triliun. Maka inflasi dicemaskan akan melaju mendekati 5,5 persen, meski di bawah target inflasi lima persen plus-minus satu persen. Kedua, merampingkan bunga kredit. Inflasi yang terus berlari kencang dapat mendorong kenaikan BI Rate di atas enam persen. Nah, kenaikan BI Rate itu makin membuat bunga kredit untuk tetap bertahan. Padahal, BI terus mendorong penurunan bunga kredit dengan memangkas BI Rate hingga 75 basis poin (bp) pada Oktober dan November 2011.

Manakala bunga kredit kian terjangkau (affordable) oleh sektor riil,perekonomian nasional amat diharapkan akan terkerek naik. Untuk itu, BI harus lebih mengefektifkan kebijakan suku bunga dasar kredit (SBDK) atau prime lending rate. Maklum, selama ini SBDK belum menjadi alat pendorong penipisan bunga kredit secara signifikan. Saat ini SBDK malah mirip alat promosi. Secara umum, SBDK tampak makin ramping.Namun ketika ditambah premi risiko (risk premium), ternyata bunga kredit masih tampak bertengger di atas.

Premi risiko mempresentasikan penilaian bank terhadap prospek pelunasan kredit oleh calon debitor yang antara lain mempertimbangkan kondisi keuangan debitor, jangka waktu kredit dan prospek usaha yang dibiayai. Terus bagaimana? BI perlu membatasi premi risiko menurut jenis kredit. Hal ini bertujuan untuk menihilkan pengenaan premi risiko yang sewenang- wenang. Selain itu, BI perlu pula membatasi margin keuntungan (profit margin). Kedua faktor ini merupakan variabel yang mutlak ditentukan oleh bank.

Penetapan ini sungguh memerlukan keberanian dan ketegasan BI di tengah hujan pro dan kontra. Ketiga, membendung dominasi asing. Indonesia bagai surga bagi investor asing. Label itu dime-teraikan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29/1999 untuk mengundang investor asing untuk memeluk mayoritas saham bank lokal hingga 99 persen. Lihat akibatnya! Pada Juni 2008, kepemilikan asing di perbankan nasional sudah mencapai 47,02 persen. Per Maret 2011, pihak asing telah menguasai 50,6 persen aset perbankan nasional sekitar Rp1.551 triliun dari total aset perbankan Rp3.065 triliun dikuasai asing.

Secara perlahan,porsi kepemilikan asing terus bertambah. Hanya 15 bank yang menguasai pangsa 85 persen. Dari 15 bank itu, sebagian sudah dimiliki asing. Dari total 121 bank umum, kepemilikan asing ada pada 47 bank dengan porsi bervariasi. Oleh sebab itu, BI dituntut untuk segera menurunkan rasio kepemilikan mayoritas saham oleh pihak asing menjadi 40 persen. Rasio ini pun masih lebih tinggi daripada Thailand 25 persen, China 25 persen, Malaysia 30 persen, namun mirip Singapura 40 persen.

Mengapa perlu? Karena modal bank nasional sudah makin perkasa yang tercermin pada rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 17,15 persen per Oktober 2011. Keempat, menjalin koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).Tugas BI yang dialihkan kepada OJK tidak termasuk tugas pengaturan bank dan tugas yang berkaitan dengan perizinan paling cepat 31 Desember 2012. OJK akan melakukan pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan antara lain bank, asuransi, dana pensiun, sekuritas, modal ventura, perusahaan pembiayaan, dan badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat.

Oleh karena itu, BI mulai menyusun rencana alur koordinasi antara BI dan OJK. Begitu pula koordinasi antara BI, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Hal ini bermanfaat untuk menjamin kelancaran tugas masingmasing dan mencegah tumpang tindih wewenang dan tanggung jawab. Kelima, mendorong terbentuknya protokol manajemen krisis. BI pun semestinya terus mendorong pemerintah untuk segera mengajukan kembali RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) ke DPR.

Hal ini bermanfaat sebagai payung hukum dalam menghadapi krisis keuangan. Dengan bekal pengalaman 2011,BI diyakini dapat menuntaskan aneka PR tersebut dengan cerdas.Tentu saja BI perlu menggandeng mesra regulator fiskal.

Sumber: www.okezone.com

Pedagang Pernak-Pernik Imlek .

JAKARTA - Menjelang perayaan tahun baru China atau Imlek banyak bermuncul pedagang musiman yang menjual pernak-pernik khas Imlek tersebut.

"Saya dagang musiman tetapi tiap tahun tahun selalu dagang ini," ujar Pedagang Pernak-pernik Imlek Ardi yang ditemui di Pasar Baru, Jakarta, Sabtu (14/1/2012).

Dirinya menyatakan omzetnya tahun ini lebih besar ketimbang tahun lalu karena memang banyaknya warga China yang berkunjung ke Pasar Baru. "Omzet Rp500-750ribu tahun lalu sekarang bisa sampai Rp1 juta per hari," jelasnya.

Ardi menegaskan kebanyakan barang dagangannya tersebut dibeli orang keturunan China tetapi ada juga orang lokal yang membeli. "Biasanya kalau orang lokal beli lampion buat dipasang kantor. Biasanya mereka pesan banyak ke kita," tuturnya.

Dirinya mengatakan yang paling banyak diminati adalah angpau yang sesuai dengan shio tahun ini. "Angpau shio naga yang banyak dibeli karena memang sekarang shionya naga air," tegasnya.

Lebih lanjut dirinya menambahkan biasanya menjual pernak-pernik ini dari seminggu sebelum Imlek hingga Cap Go Meh atau 15 hari setelah Imlek. "Setelah itu saya dagang kaca mata seperti biasa," pungkas Ardi.

Sumber: www.okezone.com

Selasa, 06 Desember 2011

Pengaruh situasi


Menurut Engel,dkk (1994) pengaruh situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik obyek.
Sedangkan menurut Mowen dan Minor (1998) situasi konsumen adalan faktor lingkungan sementara yang menyebabkan suatu situasi dimana perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan tempat tertentu.

Berikut ini adalah 5 karakteristik situasi pembelian :
1. Lingkungan Fisik
Sarana fisik yang menggambarkan situasi konsumen yang meliputi: lokasi, dekorasi, aroma, cahaya, cuaca dan objek fisik lainnya yang ada di sekeliling konsumen

2. Lingkungan Sosial
Kehadiran dan ketidakhadiran orang lain pada situasi tersebut.

3. Waktu
Waktu atau saat perilaku muncul (jam, hari, musim libur, bulan puasa, tahun baru). Waktu mungkin diukur secara subjektif berdasarkan situasi konsumen, misal kapan terakhir kali membeli biskuit. Arti kapan terakhir kali akan berbeda antar konsumen.

4. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai pada suatu situasi. Konsumen yang belanja untuk hadiah akan menghadapi situasi berbeda dibandingkan belanja untuk kebutuhan sendiri.

5. Suasana Hati
Suasana hati atau kondisi jiwa sesaat (misalnya perasaan khawatir, tergesagesa, sedih, marah) yang dibawa pada suatu situasi.

Berikut ini adalah beberapa situasi yang dapat mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu barang :
1. Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian
2. Situasi Pemakaian adalah situasi penggunaan produk dan jasa merupakan situasi atau suasana ketika konsumsi terjadi. Konsumen seringkali memilih suatu produk karena pertimbangan dari situasi konsumsi

Contoh :
Saat seseorang berada dalam suatu acara outdoor dan saat itu sangat panas, ia merasa haus dan melihat ada seorang penjual minuman dingin yang segar, berapapun harganya ia akan mau membeli minuman tersebut untuk mengurangi rasa hausnya tanpa piker panjang lagi. Tetapi saat dia sedang berada di sebuah supermarket, ia akan lebih memperhatikan harga minuman yang akan dibelinya. Hal ini menujukkan bahwa situasi dapat mempengaruhi seseorang dalam membeli suatu barang.

Sumber :
1. Mumuh Mulyana Mubarak, SE., materi
2. http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/09/perilaku-konsumen/